PEMIMPIN WAJAH KULIT BABI TAK KENAL MUNDUR
Cerpen Satire Politik
Tokoh, tempat, dan peristiwa dalam cerita ini adalah fiksi dan satire. Jika ada kemiripan dengan keadaan nyata, itu semata refleksi sosial dalam demokrasi.
BAB 1
Istana yang Bau Lumpur
Langit Banda Raya sore itu tampak kusam. Awan menggantung rendah seperti ikut menahan malu atas apa yang sedang terjadi di pusat pemerintahan negeri.
Di depan kantor gubernur, ratusan mahasiswa berdiri membawa spanduk lusuh. Sebagian wajah mereka lelah karena sudah tiga hari tiga malam bertahan di bawah panas dan hujan.
"Hidup rakyat!"
"Turunkan gubernur!"
"Negeri bukan milik keluarga!"
Suara toa memecah jalanan.
Di gerbang utama kantor gubernur, mahasiswa memasang papan kayu besar bertuliskan:
"KANDANG KEKUASAAN"
Di bawahnya tergantung gambar seekor babi gemuk memakai jas kebesaran.
Banyak pegawai hanya menunduk malu saat masuk melalui pintu samping.
Di lantai paling atas gedung itu, Gubernur Malik Zubir duduk sambil mengisap cerutu mahal. Wajahnya bulat, mengkilap oleh minyak wajah dan kemewahan.
Rakyat diam-diam menjulukinya:
"Pemimpin Wajah Kulit Babi"
Bukan karena bentuk mukanya.
Tetapi karena tabiatnya.
Tebal muka.
Tak tahu malu.
Tak pernah merasa bersalah.
Sudah berbulan-bulan mahasiswa menuntut pengunduran dirinya.
Namun setiap kali wartawan bertanya, ia hanya tertawa kecil.
"Demo itu biasa dalam demokrasi," katanya santai.
Padahal negeri sedang penuh luka.
Jalan-jalan rusak.
Rumah sakit kekurangan obat.
Guru honorer belum digaji.
Nelayan kehilangan bantuan.
Tetapi keluarga gubernur justru hidup semakin mewah.
Istrinya diangkat menjadi ketua berbagai lembaga.
Anaknya yang baru pulang kuliah tiba-tiba menjadi direktur perusahaan milik daerah.
Keponakannya menguasai proyek.
Sahabatnya menguasai tambang.
Dan para penjilat berdiri di sekeliling kekuasaan seperti lalat mengerubungi bangkai.
Namun Malik Zubir merasa dirinya tetap dicintai rakyat.
Sebab setiap kali turun ke kampung, para kepala dinas sudah menyiapkan tepuk tangan.
Sudah menyiapkan nasi.
Sudah menyiapkan orang-orang bayaran.
Ia hidup di dalam dunia yang dibangun oleh kebohongan.
Dan kebohongan yang terlalu lama dipercaya akhirnya berubah menjadi keyakinan.
BAB 2
Mahasiswa Menyegel Kantor
Hari keempat demonstrasi menjadi lebih panas.
Sejak pagi mahasiswa berdatangan dari berbagai kampus.
Ada yang membawa rantai.
Ada yang membawa bambu.
Ada yang membawa peti mati bertuliskan:
"MATINYA MALU PEMIMPIN"
Seorang mahasiswa bernama Rahmat berdiri di atas mobil bak terbuka.
Wajahnya hitam terbakar matahari.
Matanya merah karena kurang tidur.
Tetapi suaranya tetap tajam.
"Kalau pemimpin tidak tahu malu, maka rakyat wajib mengingatkan!"
Massa bersorak.
"Kalau kantor ini tak lagi mendengar suara rakyat, maka lebih pantas jadi kandang!"
Mahasiswa lalu menyegel gerbang dengan rantai besar.
Mereka menggantung jerami di depan pintu.
Beberapa orang bahkan meletakkan tempat makan ternak sebagai simbol penghinaan terhadap kekuasaan yang rakus.
Berita itu langsung viral.
Media nasional datang.
Wartawan asing mulai menulis.
Namun gubernur tetap tertawa.
Ia malah mengadakan rapat makan malam di hotel mewah.
Di sana para pejabat sibuk memuji.
"Bapak tetap kuat."
"Rakyat masih cinta bapak."
"Mahasiswa hanya ditunggangi lawan politik."
Malik Zubir tersenyum puas.
Ia menikmati pujian seperti candu.
Padahal di luar sana, rakyat mulai muak.
Bahkan banyak pendukung lamanya diam-diam malu mengaku pernah memilihnya.
BAB 3
Istri Sang Penguasa
Nama istrinya adalah Nuraini.
Di berbagai baliho pemerintah, wajah perempuan itu muncul hampir sama besar dengan gubernur.
Setiap acara resmi, ia duduk paling depan.
Setiap proyek sosial, namanya dicetak paling besar.
Para pejabat mulai paham.
Kalau ingin selamat, jangan hanya menyenangkan gubernur.
Tetapi juga harus menyenangkan istrinya.
Maka hadiah mulai berdatangan.
Tas mahal.
Perhiasan.
Mobil.
Liburan.
Sementara di desa-desa, ibu-ibu antre minyak goreng.
Anak-anak putus sekolah.
Tetapi istana kekuasaan justru sibuk mempercantik ruang tamu.
Suatu malam seorang wartawan bertanya:
"Benarkah ibu gubernur ikut menentukan jabatan di pemerintahan?"
Malik Zubir tertawa kecil.
"Istri saya hanya membantu memberi masukan."
Namun semua orang tahu.
Tak ada kepala dinas yang berani bergerak tanpa restu keluarga.
Negeri itu perlahan berubah.
Bukan lagi dipimpin oleh aturan.
Tetapi oleh lingkar keluarga.
BAB 4
Anak Sang Raja Kecil
Anak laki-laki gubernur bernama Fikram.
Usianya bahkan belum empat puluh tahun.
Pengalamannya hampir tak ada.
Tetapi tiba-tiba ia diangkat menjadi direktur perusahaan daerah terbesar.
Pegawai lama terdiam.
Mereka tahu keputusan itu bukan soal kemampuan.
Tetapi soal darah.
Fikram datang ke kantor memakai mobil sport.
Ia berbicara kasar.
Suka memarahi staf.
Dan paling gemar memamerkan kekuasaan ayahnya.
"Kalau ada yang tidak suka, silakan keluar!" katanya suatu hari.
Perusahaan itu perlahan hancur.
Utang meningkat.
Proyek gagal.
Tetapi laporan ke gubernur selalu dibuat indah.
Karena semua takut.
Takut kehilangan jabatan.
Takut dipindahkan.
Takut dimusuhi penguasa.
Di negeri yang dikuasai rasa takut, kebenaran menjadi barang mahal.
BAB 5
Para Penjilat
Di sekitar Malik Zubir hidup manusia-manusia yang ahli menjilat.
Mereka tersenyum paling lebar.
Mereka tertawa paling keras.
Mereka memuji bahkan ketika gubernur melakukan kesalahan.
"Bapak pemimpin terbaik sepanjang sejarah!"
"Tak ada yang bisa menggantikan bapak!"
"Kalau bapak mundur, negeri ini hancur!"
Begitulah setiap hari telinga gubernur dipenuhi racun pujian.
Ia mulai percaya dirinya tak tergantikan.
Ia mulai percaya kritik adalah musuh.
Ia mulai percaya rakyat bodoh.
Dan ketika seorang kader partainya mengkritik pengangkatan keluarga dalam jabatan publik, orang itu langsung dipecat.
Tanpa dialog.
Tanpa penjelasan.
Malam itu banyak kader tua hanya bisa menghela napas.
Partai yang dulu dibangun dengan pengorbanan kini berubah menjadi alat keluarga.
Orang-orang idealis perlahan disingkirkan.
Yang tersisa hanya penjilat dan pencari proyek.
BAB 6
Kota yang Kehilangan Harapan
Di sudut kota, seorang tukang becak bernama Hamdani mendengar berita demonstrasi dari radio kecilnya.
Ia tertawa pahit.
"Mahasiswa masih punya keberanian," katanya pelan.
Anaknya sudah dua tahun menganggur.
Istrinya sakit.
Tetapi bantuan kesehatan selalu dipersulit.
Sementara televisi setiap hari menampilkan pejabat berpesta.
Di warung kopi rakyat mulai berbicara lebih terbuka.
"Dulu kita memilih pemimpin."
"Sekarang kita memilih keluarga kerajaan."
"Negeri ini seperti milik pribadi."
Tetapi banyak pula yang takut bicara keras.
Karena kritik bisa membuat usaha dipersulit.
Bisa membuat proyek dicabut.
Bisa membuat hidup susah.
Demokrasi masih ada dalam tulisan.
Tetapi perlahan hilang dalam kenyataan.
BAB 7
Api di Depan Istana
Malam itu hujan turun deras.
Namun mahasiswa tetap bertahan di depan kantor gubernur.
Mereka menyalakan lilin.
Mereka membaca puisi.
Seorang mahasiswi menangis saat berbicara di depan massa.
"Kami tidak membenci orangnya. Kami membenci keserakahan kekuasaan!"
Suasana menjadi sunyi.
Banyak polisi yang berjaga ikut menunduk.
Karena diam-diam mereka juga rakyat.
Mereka juga melihat ketidakadilan.
Tiba-tiba seseorang melemparkan kepala babi tiruan ke gerbang kantor gubernur.
Massa gemuruh.
Tulisan besar terbentang:
"PEMIMPIN TAK TAHU MALU ADALAH MALAPETAKA NEGERI"
Api semangat mahasiswa semakin besar.
Tetapi di dalam gedung, gubernur justru sibuk menonton acara hiburan.
Ia berkata kepada ajudannya:
"Besok juga mereka lelah sendiri."
Begitulah kekuasaan bekerja.
Semakin lama duduk di singgasana, semakin tuli mendengar penderitaan.
BAB 8
Orang Tua yang Menangis
Di sebuah desa pesisir, seorang lelaki tua melihat demonstrasi mahasiswa dari televisi usang.
Namanya Abdullah.
Ia pernah ikut berjuang membangun daerah itu puluhan tahun lalu.
Matanya berkaca-kaca.
"Kami dulu bermimpi negeri ini dipimpin orang yang takut kepada rakyat," katanya lirih.
"Bukan orang yang menjadikan kekuasaan sebagai warisan keluarga."
Cucunya bertanya:
"Kakek, kenapa gubernur tidak mau mundur kalau rakyat marah?"
Lelaki tua itu diam lama.
Lalu menjawab pelan.
"Karena ada manusia yang lebih takut kehilangan kursi daripada kehilangan harga diri."
BAB 9
Retaknya Kekuasaan
Hari demi hari tekanan semakin besar.
Pegawai mulai membocorkan dokumen.
Aktivis mulai bersatu.
Mantan pendukung mulai bicara.
Bahkan beberapa pejabat mulai menjaga jarak.
Karena mereka tahu.
Kapal kekuasaan mulai bocor.
Namun Malik Zubir tetap keras kepala.
Dalam pidatonya ia berkata:
"Saya tidak akan mundur hanya karena tekanan jalanan!"
Pidato itu justru membuat rakyat semakin marah.
Karena yang mereka lihat bukan ketegasan.
Tetapi kesombongan.
Malam itu kota dipenuhi poster.
"PEMIMPIN BESAR TAHU KAPAN HARUS PERGI"
Dan di media sosial, julukan "Wajah Kulit Babi" semakin menyebar.
Bukan lagi sekadar hinaan.
Tetapi simbol kemarahan rakyat terhadap pemimpin yang kehilangan rasa malu.
BAB 10
Kursi yang Tak Abadi
Suatu pagi, Malik Zubir berdiri sendiri di balkon kantor gubernur.
Untuk pertama kalinya ia melihat halaman kantor yang kosong.
Tak ada lagi tepuk tangan.
Tak ada lagi pujian.
Tak ada lagi senyum penjilat.
Yang tersisa hanya spanduk lusuh bekas demonstrasi.
Dan bau jerami yang masih tertinggal di gerbang.
Ia tiba-tiba sadar.
Kekuasaan ternyata tidak abadi.
Semua orang yang dulu memujinya perlahan menghilang.
Telepon mulai sepi.
Sahabat-sahabat politik mulai menjaga jarak.
Dan rakyat tak lagi percaya.
Namun penyesalan selalu datang terlambat.
Karena selama bertahun-tahun ia terlalu sibuk membangun dinasti.
Terlalu sibuk mendengar pujian.
Terlalu sibuk mempertahankan kursi.
Sementara negeri perlahan tenggelam dalam kekecewaan.
Di luar pagar kantor gubernur, seorang mahasiswa menulis kalimat dengan cat hitam:
"JABATAN BISA DIPERTAHANKAN DENGAN KUASA.
TETAPI HORMAT HANYA BISA DIPERTAHANKAN DENGAN MALU."
Langit pagi tampak mendung.
Burung-burung beterbangan meninggalkan atap gedung pemerintahan.
Dan kota itu akhirnya belajar satu hal:
Pemimpin yang tak tahu kapan harus berhenti akan diingat bukan karena kebesarannya.
Tetapi karena kerakusannya.

