DEMOKRASI BUKAN TENTANG MEMILIKI KEKUASAAN
DEMOKRASI BUKAN TENTANG MEMILIKI KEKUASAAN
Musuh Politik Dalam Demokrasi Bukanlah Rakyat
Banyak orang memahami politik demokrasi secara sempit. Mereka menganggap lawan politik adalah musuh yang harus disingkirkan, dihancurkan, atau dibungkam.
Padahal dalam teori demokrasi modern, tidak ada istilah musuh abadi dalam politik.
Karena demokrasi bukan perang untuk saling memusnahkan, tetapi mekanisme untuk menjaga keseimbangan kekuasaan demi kepentingan rakyat.
Itulah sebabnya ada ungkapan bahwa demokrasi itu seperti “memukul tongkat ke air.” Air akan terbelah sesaat, tetapi kemudian kembali menyatu.
Artinya, perbedaan politik dalam demokrasi seharusnya tidak melahirkan permusuhan permanen.
Karena baik pemerintah maupun oposisi sesungguhnya sama-sama bekerja dalam ruang pengabdian kepada rakyat.
Demokrasi Membutuhkan Oposisi
Dalam negara demokrasi, oposisi bukan ancaman negara.
Oposisi adalah bagian penting dari demokrasi itu sendiri.
Pemerintah membutuhkan oposisi agar kekuasaan tidak berjalan tanpa kontrol. Sebaliknya oposisi juga membutuhkan pemerintah agar demokrasi dapat berjalan secara seimbang.
Karena itu partai yang kalah dalam pemilihan bukan berarti kehilangan hak politik.
Mereka tetap memiliki panggung demokrasi yang sama pentingnya untuk mengawasi kekuasaan, mengkritik kebijakan, dan memperjuangkan kepentingan rakyat.
Demokrasi yang sehat bukan demokrasi yang membungkam lawan politik, tetapi demokrasi yang memberi ruang kepada semua suara rakyat untuk hidup.
Tidak Ada Istilah “Nyamuk Diluar Kelambu”
Dalam politik demokrasi, semua rakyat memiliki hak politik yang sama.
Tidak ada istilah kelompok luar, kelompok buangan, atau “nyamuk di luar kelambu.”
Istilah seperti itu lahir dari cara berpikir feodal dan sempit terhadap demokrasi.
Karena dalam negara demokrasi modern, negara bukan milik kelompok pemenang pemilu.
Negara adalah milik seluruh rakyat.
Begitu juga pemerintahan daerah. Ketika seseorang memenangkan pemilihan gubernur atau bupati, ia hanya memperoleh mandat menjalankan pemerintahan, bukan memiliki daerah tersebut.
Kekuasaan boleh dimenangkan, tetapi daerah dan rakyat tidak boleh dimiliki.
Itulah perbedaan besar antara kepemimpinan demokratis dan kepemimpinan otoriter.
Demokrasi Dan Pengalaman Aceh
Aceh pernah mengalami masa kepemimpinan yang keras pada era Orde Baru.
Ketika rakyat menyampaikan protes, demonstrasi dianggap ancaman keamanan. Ketika masyarakat bersuara, negara lebih memilih pendekatan kekuatan dibanding pendekatan dialog.
Karena dalam sistem otoriter, yang paling utama adalah stabilitas kekuasaan.
Akibatnya lahirlah ketakutan, pembungkaman, hingga penerapan DOM yang meninggalkan luka panjang dalam sejarah Aceh.
Pada masa itu rakyat sering dianggap sebagai objek yang harus dikendalikan.
Bukan sebagai pemilik negara.
Demokrasi Menempatkan Rakyat Sebagai Yang Utama
Demokrasi lahir untuk mengubah cara berpikir seperti itu.
Dalam demokrasi modern, rakyat adalah pemilik sah negara.
Pemerintah hanyalah pelaksana mandat rakyat.
Karena itu kritik tidak boleh dianggap ancaman. Demonstrasi tidak boleh dianggap musuh negara. Oposisi tidak boleh dianggap pengganggu kekuasaan.
Justru keberanian rakyat berbicara adalah tanda bahwa demokrasi masih hidup.
Negara demokrasi yang sehat bukan negara yang sunyi tanpa kritik, tetapi negara yang mampu mendengar suara rakyat tanpa rasa takut.
Politik Bukan Tentang Menguasai Rakyat
Kesalahan terbesar dalam politik hari ini adalah ketika kekuasaan dianggap sebagai hak untuk menguasai manusia.
Padahal politik demokrasi bukan tentang menguasai rakyat, tetapi tentang melayani rakyat.
Jabatan hanyalah amanah sementara.
Karena setelah kekuasaan berakhir, yang akan diingat rakyat bukan seberapa besar kekuatan seorang pemimpin, tetapi seberapa besar ia menjaga keadilan dan menghormati rakyatnya.
Maka inti demokrasi sebenarnya sangat sederhana:
Kekuasaan boleh berganti.
Pemerintah boleh berubah.
Tetapi rakyat harus tetap menjadi yang utama.
