PARTAI POLITIK HARUS MENJADI SEKOLAH DEMOKRASI, BUKAN PUSAT PEMUJAAN KEKUASAAN
Oleh : Tarmidinsyah Abubakar
Demokrasi tidak hanya diuji saat pemilu berlangsung.
Demokrasi juga diuji di dalam tubuh partai politik itu sendiri.
Jika dalam organisasi politik:
- kritik dianggap ancaman,
- kader takut berbeda pendapat,
- keputusan hanya bergantung pada satu figur,
- dan loyalitas lebih penting daripada kualitas, maka demokrasi sedang kehilangan ruhnya sejak dari dalam.
Partai politik seharusnya menjadi sekolah demokrasi bagi rakyat.
Di sanalah kader belajar:
- musyawarah,
- etika kekuasaan,
- menghargai perbedaan,
- dan menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan kelompok.
Namun ketika partai berubah menjadi organisasi yang terlalu berpusat pada figur, maka perlahan muncul budaya politik yang kaku dan tertutup.
Akibatnya, kader lebih sibuk menjaga kekuasaan daripada memperjuangkan kualitas kepemimpinan.
Padahal rakyat tidak membutuhkan politik yang penuh pemujaan tokoh.
Rakyat membutuhkan:
- kejujuran,
- kemampuan bekerja,
- keberanian menerima kritik,
- dan pemimpin yang hadir menyelesaikan masalah masyarakat.
Dalam demokrasi yang sehat, partai hanyalah alat.
Sedangkan pemilik sah negara tetaplah rakyat.
Karena itu masyarakat harus semakin cerdas: mendukung partai ketika memperjuangkan kepentingan rakyat, dan mengkritiknya ketika kekuasaan mulai menjauh dari nilai demokrasi.
Sebab bangsa yang besar bukan dibangun oleh organisasi yang takut kritik.
Tetapi oleh masyarakat dan pemimpin yang dewasa dalam musyawarah serta terbuka terhadap kebenaran.