Demokrasi Bukan Alat Menyerang Lawan Politik
Demokrasi Bukan Alat Menyerang Lawan Politik
Di dalam sistem demokrasi, mengkritik pemerintah adalah hak setiap warga negara dan hak setiap partai politik. Kritik bahkan diperlukan agar kekuasaan tidak berjalan semena-mena. Namun ada satu hal yang sering dilupakan dalam praktik politik modern:
mereka yang menuntut demokrasi juga wajib menjalankan demokrasi.
Di sinilah masalah besar banyak partai politik hari ini.
Mereka berteriak tentang:
- keterbukaan,
- transparansi,
- keadilan,
- partisipasi rakyat,
- dan akuntabilitas pemerintah,
tetapi di dalam tubuh partainya sendiri, nilai-nilai itu justru tidak hidup.
Keputusan partai ditentukan segelintir elite.
Kader hanya menjadi alat.
Kritik dianggap ancaman.
Perbedaan pendapat dibungkam.
Pemilihan jabatan ditentukan kedekatan, bukan kapasitas.
Lalu mereka tampil di depan publik seolah-olah menjadi pejuang demokrasi.
Inilah kontradiksi politik yang sering tidak disadari masyarakat.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
PARTAI POLITIK HARUS MENJADI SEKOLAH DEMOKRASI
Dalam teori demokrasi modern, partai politik bukan hanya kendaraan merebut kekuasaan. Partai politik seharusnya menjadi sekolah pendidikan politik rakyat.
Artinya:
- partai harus melatih budaya musyawarah,
- menghargai kritik,
- membuka ruang gagasan,
- memberi kesempatan kepada kader berkualitas,
- dan membangun keputusan secara transparan.
Karena dari budaya internal partai itulah nantinya lahir cara mereka memimpin negara.
Jika di internal partai saja sudah otoriter, maka ketika berkuasa mereka hanya akan memindahkan budaya otoriter itu ke pemerintahan.
Maka jangan heran apabila ada partai yang ketika belum berkuasa berbicara demokrasi, tetapi setelah memiliki kekuasaan berubah menjadi anti kritik.
Sebab demokrasi mereka sejak awal hanyalah alat politik, bukan nilai perjuangan.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
DEMOKRASI BUKAN PANGGUNG PENCITRAAN
Hari ini banyak partai memakai kata “demokrasi” hanya sebagai slogan untuk menyerang lawan politik.
Padahal demokrasi bukan panggung pencitraan.
Demokrasi adalah konsistensi moral.
Orang yang benar-benar demokratis akan:
- terbuka ketika kuat,
- tetap adil ketika berkuasa,
- dan tetap menghargai kritik meskipun berbeda pendapat.
Tetapi mereka yang hanya menjadikan demokrasi sebagai alat propaganda biasanya memiliki ciri:
- keras kepada lawan,
- tetapi anti kritik terhadap diri sendiri,
- menuntut transparansi,
- tetapi menutup informasi internal partai,
- meminta pemerintah jujur,
- tetapi politik internalnya penuh manipulasi.
Inilah yang membuat rakyat akhirnya kehilangan kepercayaan kepada partai politik.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
KRITIK TANPA KETELADANAN AKAN KEHILANGAN LEGITIMASI MORAL
Sebenarnya siapa pun boleh mengkritik pemerintah. Itu hak demokrasi.
Tetapi kritik akan memiliki kekuatan moral apabila pengkritik juga menjalankan prinsip yang sama.
Karena rakyat hari ini mulai melihat:
apakah sebuah partai benar-benar memperjuangkan demokrasi, atau hanya memakai isu demokrasi untuk mendapatkan kekuasaan.
Jika partai tidak transparan terhadap kadernya sendiri, maka tuntutan transparansi kepada pemerintah akan terdengar sebagai kemunafikan politik.
Jika suara kader dibungkam, maka seruan kebebasan kepada rakyat hanyalah retorika.
Dan jika partai dipenuhi politik kepentingan elite, maka sulit dipercaya mereka benar-benar memperjuangkan kepentingan rakyat.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
DEMOKRASI MEMBUTUHKAN KEJUJURAN POLITIK
Masalah terbesar politik hari ini bukan hanya kebohongan kepada rakyat, tetapi ketidakkonsistenan moral dalam menjalankan demokrasi.
Banyak yang ingin terlihat demokratis di depan publik, tetapi tidak siap hidup dalam budaya demokrasi yang sebenarnya.
Padahal demokrasi membutuhkan:
- kejujuran,
- keterbukaan,
- penghormatan terhadap akal sehat,
- dan keberanian menerima kritik.
Tanpa itu semua, partai politik hanya akan menjadi kelompok kekuasaan yang memakai nama demokrasi untuk kepentingan politik semata.
━━━━━━━━━━━━━━━━━━
PENUTUP
Partai politik yang tidak demokratis di internalnya sebenarnya kehilangan legitimasi moral ketika menuntut pemerintah terbuka dan demokratis.
Sebab demokrasi bukan sekadar kata-kata untuk menyerang lawan politik.
Demokrasi adalah sikap.
Demokrasi adalah budaya.
Demokrasi adalah keteladanan.
Dan rakyat yang semakin cerdas pada akhirnya akan mampu membedakan:
mana pejuang demokrasi yang tulus, dan mana yang hanya memakai demokrasi sebagai jalan menuju kekuasaan.
