INDONESIA DARURAT DEMOKRASI


INDONESIA DARURAT DEMOKRASI

Oleh : Tarmidinsyah Abubakar


Demokrasi seharusnya menjadi alat rakyat untuk mengontrol kekuasaan.
Tetapi hari ini, yang terjadi justru sebaliknya: kekuasaan mulai mengontrol demokrasi.

Rakyat masih datang ke TPS, partai masih ada, pemilu tetap dilaksanakan, tetapi substansi demokrasi perlahan melemah.

Demokrasi tidak cukup hanya dengan pemilu lima tahunan. Demokrasi hidup jika ada kebebasan berpikir, keberanian mengkritik, transparansi anggaran, penegakan hukum yang adil, dan kesempatan yang sama bagi rakyat untuk menentukan arah negara.

Yang berbahaya hari ini bukan ketika rakyat berbeda pilihan.
Yang berbahaya adalah ketika rakyat kehilangan kemampuan untuk mengawasi kekuasaan karena dibanjiri pencitraan, propaganda, politik uang, fanatisme tokoh, dan ketakutan sosial.


Gejala Indonesia Darurat Demokrasi

1. Politik Mulai Dikuasai Oligarki
Biaya politik semakin mahal.
Akibatnya, kekuasaan lebih mudah dikuasai pemilik modal dibanding rakyat biasa.
Orang baik sulit maju tanpa dukungan uang besar.

Sementara yang punya kekuatan ekonomi bisa membentuk opini, membeli pengaruh, bahkan mengendalikan arah kebijakan.

Demokrasi akhirnya berubah: dari “suara rakyat” menjadi “suara pemilik kekuatan”.

2. Kritik Mulai Dianggap Ancaman
Dalam demokrasi sehat, kritik adalah vitamin negara.

Tetapi ketika kritik dianggap musuh, maka demokrasi mulai sakit.

Hari ini banyak orang takut bicara:
takut diserang buzzer,
takut kehilangan jabatan,
takut dipersekusi,
takut diputus akses ekonomi,
bahkan takut dianggap lawan politik.

Padahal negara yang anti kritik perlahan bergerak menuju kekuasaan tertutup.

3. Politik Identitas dan Fanatisme Tokoh
Rakyat tidak lagi diajak berpikir program dan solusi.
Sebaliknya, rakyat didorong untuk fanatik kepada figur.

Akibatnya:
tokoh dianggap selalu benar,
pendukung tidak boleh mengkritik,
lawan dianggap musuh,
dan masyarakat terpecah.
Fanatisme politik adalah pintu masuk kehancuran demokrasi.
Karena ketika akal sehat kalah oleh kultus tokoh, maka pengawasan rakyat mati.

4. Media dan Informasi Tidak Lagi Bebas Sepenuhnya
Sebagian media hari ini hidup dalam tekanan ekonomi dan kepentingan politik.

Akibatnya:
ada berita yang dibesarkan,
ada yang sengaja ditutupi,
ada kritik yang dilemahkan,
dan ada propaganda yang dipoles seolah fakta.
Ketika media takut kehilangan iklan atau akses kekuasaan, maka rakyat kehilangan sumber informasi yang jujur.

5. Rakyat Dijadikan Penonton Anggaran Negara
Demokrasi bukan hanya soal memilih pemimpin.
Demokrasi juga soal: ke mana uang rakyat digunakan.
Tetapi hari ini banyak kebijakan berjalan tanpa transparansi yang jelas kepada rakyat.
Rakyat hanya melihat seremoni,

Sementara:
hutang negara naik,
biaya hidup meningkat,
lapangan kerja sulit,
dan ketimpangan makin terasa.
Jika rakyat tidak tahu bagaimana uang negara digunakan, maka demokrasi hanya menjadi formalitas.

6. Aparat dan Lembaga Harus Tetap Netral
Demokrasi akan runtuh jika lembaga negara kehilangan independensi.

Rakyat harus percaya bahwa:
hukum berlaku untuk semua,
aparat tidak berpihak,
dan institusi negara bekerja untuk konstitusi, bukan untuk kelompok tertentu.

Karena ketika hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas, kepercayaan rakyat akan runtuh perlahan.
Bahaya Terbesar Demokrasi
Bahaya terbesar bukan ketika rakyat miskin.

Tetapi ketika rakyat:
tidak peduli,
takut bicara,
malas berpikir,
mudah diadu domba,
dan menyerahkan masa depan kepada propaganda.

Demokrasi mati bukan hanya karena diktator.
Demokrasi juga bisa mati karena rakyat dibiasakan diam.

Yang Harus Dilakukan Rakyat

1. Bangun Kesadaran Politik
Rakyat harus belajar membedakan:
pemimpin dan pencitraan,
program dan propaganda,
kritik dan kebencian.

2. Kawal Transparansi Anggaran
Uang negara adalah uang rakyat.
Rakyat berhak tahu:
digunakan untuk apa,
siapa yang menikmati,
dan apa dampaknya bagi masyarakat.

3. Jangan Fanatik Buta
Tidak ada tokoh yang sempurna.
Demokrasi sehat membutuhkan rakyat yang berani mendukung sekaligus mengkritik.

4. Perkuat Pendidikan dan Ekonomi Rakyat
Rakyat yang kuat secara ekonomi dan pendidikan lebih sulit dibohongi.
Karena kemiskinan dan ketidaktahuan sering dijadikan alat untuk membeli suara dan kesetiaan politik.

5. Jaga Persatuan
Perbedaan pilihan politik jangan sampai menghancurkan persaudaraan bangsa.
Politik datang lima tahun sekali.
Tetapi bangsa ini harus hidup untuk generasi berikutnya.


Penutup

Indonesia tidak kekurangan orang pintar.
Indonesia tidak kekurangan sumber daya.
Indonesia tidak kekurangan aturan.
Yang sedang diuji hari ini adalah: apakah demokrasi masih benar-benar milik rakyat, atau perlahan berubah menjadi alat segelintir kekuatan.

Jika rakyat berhenti mengawasi kekuasaan,
maka demokrasi tinggal nama.

Tetapi jika rakyat sadar, berani berpikir, berani mengkritik, dan menjaga persatuan, maka demokrasi masih bisa diselamatkan.
Karena masa depan bangsa bukan ditentukan oleh elite saja.
Tetapi juga oleh keberanian rakyat untuk menjaga negaranya sendiri.

Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil