Postingan

Negara Federal: Solusi Agar Indonesia Tidak Terus Tertinggal?

Gambar
Oleh : Tarmidinsyah Abubakar Perdebatan tentang sistem federal di Indonesia sebenarnya bukan hal baru. Sejak awal reformasi, gagasan ini terus muncul sebagai alternatif untuk memperbaiki ketimpangan pembangunan, birokrasi yang terlalu sentralistik, dan lemahnya kemandirian daerah. Namun sayangnya, istilah “federal” sering langsung dicurigai seolah identik dengan upaya memecah negara. Padahal di banyak negara maju, sistem federal justru menjadi fondasi kekuatan nasional. Lihat saja negara-negara federal yang justru menjadi kekuatan ekonomi dan demokrasi dunia: Amerika Serikat Dengan sistem federal, setiap negara bagian memiliki kewenangan besar mengatur ekonomi, pendidikan, hingga investasi daerahnya sendiri. Jerman Negara bagian di Jerman memiliki kekuatan administrasi dan ekonomi yang sangat maju sehingga pembangunan tidak hanya terpusat di ibu kota. Australia Wilayah-wilayah di Australia mampu berkembang sesuai karakter geografis dan potensi ekonominya masing-masing. ...

Revisi UUPA Bukan Satu-Satunya Jalan Kesejahteraan Aceh

Gambar
Oleh : Tarmidin Syah Abubakar Revisi UUPA memang penting, terutama terkait dana otsus, kewenangan Aceh, dan penguatan posisi politik Aceh dalam NKRI. Namun rakyat Aceh juga harus melihat lebih jauh bahwa kesejahteraan tidak otomatis lahir hanya karena revisi aturan. Aceh selama ini sudah menerima dana otsus sangat besar. Pertanyaan utamanya bukan hanya “berapa tambahan kewenangan dan anggaran?”, tetapi: “Apakah pengelolaannya benar-benar berpihak kepada rakyat?” Karena itu, DPR RI asal Aceh seharusnya tidak berhenti pada narasi revisi UUPA semata. Ada pekerjaan yang jauh lebih besar dan lebih menentukan masa depan rakyat Aceh. 1. Memastikan Transparansi Total Dana Otsus Selama bertahun-tahun rakyat sulit mengetahui secara rinci: ke mana dana otsus digunakan, siapa penerima manfaat terbesar, proyek mana yang berhasil, dan mana yang gagal. DPR RI asal Aceh harus mendorong sistem transparansi digital terbuka agar rakyat bisa mengawasi penggunaan uang rakyat secara langsung. K...

KETIKA TRUST SOSIAL HILANG, KEKUASAAN MULAI KEHILANGAN MAKNA

Oleh : Tarmidinsyah Abubakar Kekuasaan tidak hanya berdiri di atas jabatan dan hukum. Kekuasaan juga berdiri di atas kepercayaan rakyat. Ketika trust sosial antara masyarakat dan pemimpin mulai runtuh, maka apa pun yang disampaikan pemerintah perlahan kehilangan makna di mata rakyat. Pidato tidak lagi menghadirkan harapan. Program tidak lagi membangkitkan keyakinan. Dan setiap pernyataan pemimpin mulai berubah menjadi bahan sindiran serta olokan sosial. Inilah tanda paling berbahaya dalam kehidupan demokrasi: bukan sekadar kritik, tetapi hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap arah kepemimpinan. Di banyak negara maju, legitimasi moral sering dianggap lebih penting daripada sekadar mempertahankan jabatan. Ketika pemimpin merasa dirinya tidak lagi mampu memulihkan kepercayaan rakyat, sebagian memilih mundur demi menjaga stabilitas sosial dan kehormatan demokrasi. Mereka memahami bahwa kekuasaan bukan hanya soal bertahan di kursi, tetapi tentang menjaga amanah publik. Karena me...

PARTAI POLITIK BERBICARA DEMOKRASI, TAPI ORGANISASINYA MASIH FEODAL, KITA TIDAK KEKURANGAN PEMIMPIN, KITA KEKURANGAN ORANG YANG PAHAM MEMIMPIN

Oleh : Tarmidinsyah Abubakar Hari ini masyarakat mulai lelah melihat demokrasi yang terus dipenuhi janji, pencitraan, dan perebutan kekuasaan. Banyak orang bertanya: mengapa negeri yang kaya sumber daya masih sulit melahirkan kepemimpinan besar? Mengapa rakyat terus berharap perubahan, tetapi yang muncul justru konflik politik, kelompok elite, dan perebutan pengaruh? Jawabannya mungkin pahit: masalah terbesar kita bukan kekurangan pemimpin. Masalah terbesar kita adalah kekurangan orang yang benar-benar memahami arti memimpin. PARTAI BERBICARA DEMOKRASI, TAPI ORGANISASINYA MASIH FEODAL Demokrasi seharusnya melahirkan budaya: musyawarah, keterbukaan, kritik, dan penghormatan terhadap kemampuan. Tetapi yang sering terjadi justru sebaliknya. Banyak organisasi politik masih dibangun dengan pola feodal: keputusan terpusat pada figur, loyalitas lebih penting daripada kualitas, kritik dianggap ancaman, dan kader takut berbeda pendapat. Akibatnya, partai politik kehilangan...

PARTAI POLITIK HARUS MENJADI SEKOLAH DEMOKRASI, BUKAN PUSAT PEMUJAAN KEKUASAAN

Oleh : Tarmidinsyah Abubakar Demokrasi tidak hanya diuji saat pemilu berlangsung. Demokrasi juga diuji di dalam tubuh partai politik itu sendiri. Jika dalam organisasi politik: kritik dianggap ancaman, kader takut berbeda pendapat, keputusan hanya bergantung pada satu figur, dan loyalitas lebih penting daripada kualitas, maka demokrasi sedang kehilangan ruhnya sejak dari dalam. Partai politik seharusnya menjadi sekolah demokrasi bagi rakyat. Di sanalah kader belajar: musyawarah, etika kekuasaan, menghargai perbedaan, dan menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan kelompok. Namun ketika partai berubah menjadi organisasi yang terlalu berpusat pada figur, maka perlahan muncul budaya politik yang kaku dan tertutup. Akibatnya, kader lebih sibuk menjaga kekuasaan daripada memperjuangkan kualitas kepemimpinan. Padahal rakyat tidak membutuhkan politik yang penuh pemujaan tokoh. Rakyat membutuhkan: kejujuran, kemampuan bekerja, keberanian menerima kritik, dan p...

KEPEMIMPINAN NABI MUHAMMAD: MEMIMPIN DENGAN HATI DAN KATA-KATA YANG MENYEJUKKAN

Gambar
Oleh : Tarmidinsyah Abubakar Artikel singkat ini untuk memudahkan inti permasalahan yang kita hadapi dalam kehidupan kita sehari-hari yang luput dari perhatian. Banyak orang salah memahami kepemimpinan. Mereka mengira kepemimpinan hanya soal kekuasaan, jabatan, dan kemampuan mengendalikan manusia. Padahal sejarah menunjukkan bahwa kepemimpinan terbesar justru lahir dari hati, akhlak, dan cara memperlakukan manusia. Nabi Muhammad membangun peradaban Islam bukan pertama-tama dengan kekuatan, tetapi dengan kepercayaan sosial. Beliau dikenal masyarakat sebagai pribadi yang jujur, amanah, sederhana, dan mampu menjaga perasaan orang lain. Dalam memimpin, Nabi Muhammad juga menggunakan kata-kata sebagai jalan menyentuh hati manusia. Beliau berbicara dengan: lembut, jelas, tidak berlebihan, dan penuh makna. Ucapan beliau bukan alat propaganda untuk menipu masyarakat, tetapi sarana membangun kesadaran, persaudaraan, dan kepercayaan. Karena itu banyak orang mengikuti beliau bukan k...

KEBISUAN SPIRAL DAN MASA DEPAN ACEH

Gambar
KEBISUAN SPIRAL DAN MASA DEPAN ACEH Oleh : TARMIDINSYAH ABUBAKAR Ketika Rakyat Tidak Lagi Percaya, Tetapi Memilih Diam Dalam politik, tidak semua perlawanan muncul dalam bentuk demonstrasi atau kemarahan terbuka. Kadang yang paling berbahaya justru ketika masyarakat terlihat tenang, diam, dan membisu. Diam belum tentu setuju. Tenang belum tentu percaya. Di banyak negara dan daerah, kondisi seperti ini sering disebut sebagai spiral of silence atau “spiral kebisuan” . Sebuah keadaan ketika masyarakat memilih tidak lagi berbicara karena merasa: Suaranya tidak akan mengubah keadaan, kritik tidak didengar, lingkungan sosial tidak aman untuk berbeda pendapat, atau karena mereka kehilangan harapan terhadap perubahan. Secara permukaan, situasi terlihat stabil. Tetapi di bawah permukaan, ketidakpercayaan tumbuh perlahan. Dan inilah yang berbahaya. Bagaimana Spiral Kebisuan Terjadi? Awalnya rakyat masih berbicara: mengkritik, memberi masukan, berharap ada perubahan. Tetapi ketika: kritik diangga...