SETIA PADA NEGARA, BUKAN PADA KEKUASAAN



SETIA PADA NEGARA, BUKAN PADA KEKUASAAN

Orang cerdas setia kepada negara.
Orang bodoh setia kepada pemerintah.
Negara itu berdiri di atas konstitusi, hukum, dan kepentingan rakyat.

Sementara pemerintah hanyalah pengelola sementara yang bisa benar, bisa juga salah.

Ketika pemerintah berjalan sesuai konstitusi, maka mendukungnya adalah bagian dari kecintaan kepada negara.
Namun ketika pemerintah menyimpang dari konstitusi, mengabaikan keadilan, dan merugikan rakyat maka mengkritiknya justru adalah bentuk kesetiaan yang paling tinggi kepada negara.

Karena negara bukan milik penguasa.
Negara bukan milik presiden, gubernur, atau pejabat.

Negara adalah milik rakyat.
Maka sebagai warga negara, kita bukan bawahan siapa-siapa.
Kita bukan anak buah kekuasaan.
Kita adalah pemilik sah negeri ini.

Pertanyaan penting untuk kita semua di Aceh:
ketika sebagian mantan kombatan  kini berkolaborasi dengan pemerintah, apakah yang dipegang adalah kepentingan negara atau sekadar kepentingan kekuasaan?

Kolaborasi bukan masalah.
Yang jadi soal adalah arah dan tujuannya.
Jika kolaborasi digunakan untuk: memperkuat pelayanan publik, membuka lapangan kerja, dan menjaga keadilan—
maka itu adalah pengabdian kepada negara.

Namun jika kolaborasi justru: menutup kritik, melanggengkan kekuasaan, dan menjauh dari kepentingan rakyat—
maka itu adalah penyimpangan dari amanah konstitusi.

Di sinilah kita harus tegas dan jernih.
Mengkritik pemerintah bukan berarti melawan negara.
Mendukung kebijakan yang adil bukan berarti tunduk pada kekuasaan.
Ukuran kita satu:
apakah kebijakan itu berpihak pada rakyat dan sesuai konstitusi?

Jika tidak, maka diam bukanlah kesetiaan melainkan pembiaran.

Aceh punya sejarah panjang tentang perjuangan.
Menentang ketidakadilan bukan berarti menentang negara.
Justru itulah cara menjaga marwah negara agar tetap berdiri di atas kebenaran.

Bedakan dengan jelas:
pemberontak adalah mereka yang merusak negara.
Sementara rakyat yang kritis dan sadar adalah mereka yang menyelamatkan negara.

Maka jangan takut bersuara.
Selama kita berpijak pada konstitusi, berpihak pada rakyat, dan berdiri di atas kebenaran kita tidak sedang melawan negara.

Kita sedang menjaganya.

Karena negara ini bukan milik penguasa.
Negara ini milik kita semua.


Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil