KENAPA RAKYAT SELALU SALAH MEMILIH

KENAPA RAKYAT SELALU SALAH MEMILIH...

Kita sering menyalahkan hasil.
Menyalahkan pemimpin.
Menyalahkan keadaan.
Tapi jarang sekali kita berani bertanya lebih dalam:
Apakah cara kita memilih sudah benar?
Masalahnya bukan sekadar pada siapa yang dipilih.

Masalahnya ada pada cara berpikir saat memilih.
Selama cara berpikirnya salah,
maka siapapun yang dipilih… hasilnya akan tetap sama.

Selama ini, kita terbiasa melihat siapa.
Siapa yang terkenal.
Siapa yang punya jabatan.
Siapa yang punya kekuatan.
Bukan apa yang dia pahami.
Bukan apa yang dia tawarkan.
Dan bukan arah apa yang akan dia bawa.

Dari sinilah kesalahan dimulai.
Ketika yang kita nilai adalah status,
maka kita sebenarnya sedang menyerahkan masa depan
kepada tampilan… bukan kepada pemahaman.
Kita sering terpesona oleh kata-kata.
Oleh janji.
Oleh penampilan.

Padahal, kata-kata bisa disusun.
Janji bisa dibuat.
Penampilan bisa dibentuk.

Tapi pemahaman tidak bisa dipalsukan.
Inilah yang jarang kita sadari.

Kita tidak benar-benar menguji:
apakah dia memahami masalah Aceh
apakah dia mampu membaca akar persoalan,
apakah dia punya arah yang jelas.

Kita hanya melihat permukaan.
Dan dari permukaan itulah…
kita mengambil keputusan besar.

Akibatnya?

Kita terus mengulang kesalahan yang sama.
Nama berubah.
Wajah berganti.
Tapi arah tetap tidak jelas.
Ini bukan karena rakyat tidak peduli.
Ini karena rakyat tidak diajarkan cara menilai yang benar.
Kita dibiasakan melihat siapa,
bukan dilatih memahami apa.

Padahal, dalam ajaran yang benar, termasuk dalam Islam,
kita diajarkan untuk bersikap adil dalam menilai.

Bukan karena siapa yang berbicara,
tapi apakah yang disampaikan itu benar.
Kebenaran tidak menjadi salah karena yang menyampaikan orang kecil.
Dan kesalahan tidak menjadi benar hanya karena yang menyampaikan orang besar.

Kalau prinsip ini hilang,
maka yang terjadi adalah:
kita tunduk pada status,
bukan pada kebenaran.
Dan selama itu terjadi,
maka kita akan terus salah memilih.
Bukan karena tidak ada pilihan yang baik.

Tapi karena kita tidak tahu cara mengenalinya.

Maka kalau kita ingin perubahan,
kita tidak bisa hanya mengganti orang.
Kita harus memperbaiki cara berpikir.
Mulai dari hal sederhana:

Berhenti melihat siapa…
mulai memahami apa.

Karena pada akhirnya,
masa depan tidak ditentukan oleh siapa yang kita pilih.
Tapi oleh
cara kita memilih.

PENUTUP
“Selama cara berpikir tidak berubah,
maka hasil tidak akan pernah benar,

meskipun orangnya terus berganti.”

Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil