Timses : Rakyat Berpolitik Diluar Kelambu, Itu Bahaya
Istilah “rakyat di luar kelambu” atau “di luar sistem” sering kali diucapkan tanpa kesadaran penuh tentang maknanya. Seolah-olah ada batas antara kekuasaan dan rakyat, seolah-olah ada ruang eksklusif yang hanya dimiliki oleh mereka yang berada dalam lingkaran tertentu.
Padahal dalam negara modern, konsep seperti itu sudah lama ditinggalkan.
Negara ini tidak dibangun di atas sistem kerajaan, di mana kekuasaan berada di dalam “kelambu”, dan rakyat berada di luar pagar. Negara ini berdiri di atas satu prinsip dasar: kedaulatan berada di tangan rakyat.
Artinya sederhana: Tidak ada rakyat di luar sistem.
Justru, sistem itu ada karena rakyat.
Ketika ada pihak yang menyebut rakyat “di luar sistem”, sesungguhnya yang terjadi bukanlah penilaian terhadap rakyat—melainkan cerminan cara berpikir yang belum selesai bertransformasi dari pola lama ke pola bernegara modern.
Cara berpikir seperti ini berbahaya, karena secara tidak sadar:
Menempatkan rakyat sebagai objek, bukan subjek
Menganggap kekuasaan sebagai milik kelompok, bukan amanah publik
Membuka ruang bagi praktik eksklusivitas dan penyalahgunaan wewenang
Dalam sistem republik, pejabat bukan pusat kekuasaan—mereka hanyalah pelaksana mandat.
Mereka tidak memiliki “kelambu”.
Yang mereka miliki hanyalah kepercayaan rakyat.
Jika kepercayaan itu hilang, maka seluruh “kelambu kekuasaan” itu runtuh dengan sendirinya.
Maka, persoalan sebenarnya bukan apakah rakyat berada di dalam atau di luar sistem.
Persoalannya adalah:
apakah kita sudah benar-benar memahami sistem yang kita jalankan, atau masih terjebak dalam bayang-bayang masa lalu.
Sadar sadar sadar.....
