"Sudah Pagi Rakyat Aceh Berdaulat"
Membandingkan Kualitas Tokoh Politik Bukan Soal Jabatan atau Kemapanan Sosial Tetapi Lebih Kepada Faktor Ideologis, dan kepahaman menguasai teori dan konsep ilmu politik, Kenapa? Ikuti bahasan singkat berikut ini,,
Masyarakat yang sudah paham politik itu tidak berpengaruh dengan jabatan dan kemapanan hidup anda selama anda tidak menawarkan jalan hidup yang terbaik bagi rakyat. Dalam teori politik disebutkan bhw :
"Pemilih tidak pernah berterimakasih tetapi mereka mengharapkan harapan apalagi yang anda tawarkan ketika harapan sebelumnya telah tercapai".
Nah, bila anda seseorang dalam kepemimpinan yang biasa saja apalagi yang sedang berjabatan dalam pemerintahan misal bupati atau walikota, dalam politik bukan ukuran untuk menjadi gubernur. Demikian pula yang gubernur bukan menjadi indikator ia akan menjadi presiden.
Tetapi yang menentukan tokoh politik itu adalah kualitas teori dan konsepsi dalam politik serta Ideology baru yang dimunculkan untuk tawaran pilihan rasional dan harapan baru bagi masyarakat yang sudah jenuh dan menggerutu. Ukuran seseorang tokoh itu diukur pada idealisme, ilmunya dan sikapnya untuk menolak yang tidak baik bagi masyarakat banyak dan sikapnya berjuang dengan segala cara untuk kebaikan hidup rakyat.
Begitu seharusnya idealnya tokoh politik. Tapi dalam sistem masyarakat Bodoh selalu muncul seseorang atau kelompok orang mengkampanyekan calon pemimpin tetapi ia tidak paham tentang kriteria dan sikap ideal pemimpin, karena sering minta bantuan pada pejabat itu maka ia kampanyekan pejabat atau mantan pejabat itu sebagai calon pemimpin, sungguh sempit cara berpikirnya.
Padahal sudah jelas pemimpin itu gagal pada saat menjabat, seharusnya jika mereka punya pendidikan pasti pernah belajar pribahasa "Sekali Lancung ke ujian seumur hidup orang tak percaya"
Pribahasa itu tentu populer dan diakui oleh semua bangsa tentang pemimpin, menentang hukum ini maka masyarakat itu pasti seperti keledai.
Namun apa di kata masyarakat bodoh yang anti dengan ilmu, tentu membenci orang menawarkan ilmu dalam kepemimpinan sudah pasti menentang teori dan konsep serta indikator lain. Calon pemimpin yang mereka terima hanya siapa yang bisa beri uang karena besok lusa mereka tidak dapat lagi.
Maka hasilnya adalah pemerintah korup, tidak bisa membantu rakyat, rakyat tetap miskin karena tidak ada ajaran hidup atau kanal yang mengarahkan kehidupan yang lebih baik bagi warga masyarakat.
Terimakasih, semoga bermanfaat.
Salam

