Aceh Kini (Kritik Sosial)
Semangat Sore Kawan,,,,
Saat ini adalah masa yang paling sesuai kita menganalisa pola kepemimpinan di Aceh kenapa selalu saja keadaan rakyat ibarat leumo kab situek.
Sekarang ini begitu besar harapan masyarakat pada seseorang yang bakal dijagokan sebagai calon gubernur pada pilkada tahun 2022. Hari ke hari masyarakat berpikir bahwa yang memimpin sekarang orang itu, kelompok itu, dimasa depan kitalah yang berkuasa dan meramaikan pendopo dan blang padang.
Keyakinan ini tentu tidak boleh kita patahkan, meski rasionalitas dalam berpikir sama sekali tidak dalam radar logis. Kenapa? Jika anda patahkan sama dengan mengundang caci maki sekaligus bully karena anda menentang arus.
Salah satu yang tidak bisa ajak kompromi dimasyarakat kita adalah mengajak mereka berpikir logis dan berpikir diluar nalar mareka atau diluar kebiasaan. Masyarakat terjebak dengan pola pikir sendiri meski tidak pernah diupdates dan di upgrade dengan perkembangan jaman. Lihatlah aplikasi yang anda pergunakan di gadget anda idealnya dalam waktu beberapa lama aplikasi dimaksud harus diupdates untuk meningkatkan dan menyesuaikan performannya. Jika tidak maka aplikasi tersebut akan terganggu kerjanya, otak manusia juga begitu jika tidak diupdates maka dia akan terganggu pikirannya, seperti stress dll.
Pekerjaan memimpin pemerintahan itu bukan pekerjaan yang menuntut jujur dan alim semata, tapi ilmunya terkait pemahaman ilmu negara dan strategy tahapan meloloskan pikiran untuk membuat kebijakan publik. Jika anda tidak paham itu meskipun anda didukung oleh masyarakat awam maka anda akan kelabakan dalam memimpin.
Seratus persen saya jamin tidak akan lancar apa yang anda harapkan, karena anda dibungkus dengan UU dan Kebijakan pemimpin yang diatas seperti Presiden, Menteri dan Pimpinan Pusat Partai Politik anda. Belum lagi kenalan anda yang bermain dilingkungan pembesar, belum lagi menghadapi politik elemen masyarakat kelas atas di daerah anda, belum lagi kader partai dan segala kepentingan berkuasa didalamnya yang anda tidak pernah mengajarkan apalagi anda sendiri juga tidak punya ilmu untuk itu, kesantunan mereka sebagai orang berada di depan masyarakat yang membutuhkan ilmu, etika dan tingkat emosional yang rendah.
Bagaimana mungkin anda memegang kekuasaan kalau anggota anda tidak pernah di ajarkan kesantunan menghadapi masyarakat bahkan tuntutannya harus di upgrades sesuai kondisi masyarakat yang stabil.
Lalu apa yang utama perlu diubah dalam memandang seseorang dalam kepemimpinan pemerintahan? Tentu anda tidak bisa melihat wajah seseorang dan meraba seakan ini orang baik dan jujur karena dikiri kanan anda akan ada lembaga kordinatif yang mempengaruhi kekuasaan itu, apakah kodam, polda, kajati, dan lembaga teknis lain dari pusat kekuasaan. Karena kekuasaan dalam sistem Republik Indonesia ini jauh berbeda dengan kekuasaan Raja dimasa lalu yang nyaris absolut.
Justru karena itu dibutuhkan kemahiran otak, kecerdasan bukan kekuatan (power politik) maka sistem pemerintahan Indonesia ini tidak akan efektif dengan power politik, ia hanya akan menjadi blunder yang mematikan langkah politik anda sendiri sebagai pemimpinnya. Maka lihatlah ketika menjadi pemimpin sebahagian besar kita Aceh akan menghadapi masalah dilingkungannya sendiri kemudian terbawa keluar dan menjelma sbg persoalan kepemimpinan daerah yg umum.
Power politik itu hanya mengantarkan anda pada tangga kekuasaan tapi power politik itu hanya tersisa pada daerah tertinggal karena rakyatnya jg masih tertinggal. Pada masyarakat yang paham politik bahkan kampanye massa itu tidak lagi menjadi trending kompetisi, tapi kampanye terbatas dan bertarget terhadap profesi justru mampu menjadikan kesepakatan thd calon pemimpin karena ia menguasai ilmu dan memahami tuntutan untuk menjawab pekerjaan di profesi masyarakat.
Mindset apa yg perlu hadir dalam otak masyarakat ketika menghadapi persaingan kepemimpinan? Tidak lain adalah kecerdasan pemikiran bukan hal-hal dukungan kasar yang memperlihatkan arogansi pada kehebatan warna yg dominan sebagaimana ciri kampanye tradisional, kampanye juga akan berbeda ada thema yang berorietasi pada perjuangan masyarakat dengan persoalan yang dihadapi dan bagaimana calon pemimpin manjawab itu.
Dengan begitu kita tidak berjalan pada jalan yang sama yg terus berulang dengan kata lain kita masyarakat Aceh tidak lagi mengikuti ilmu keledai, karena keledai saat ini justru sudah berubah.
Ingat, perkembangan jaman semakin tidak memberikan nilai pada kuantitas jumlah orang ia semakin terorientasi pada kualitas, mungkin ini pula inspirasi dari pencipta virus corona dan Allah juga mengizinkan untuk perubahan cara hidup manusia baru dimasa yg akan datang supaya kita berpikir bukan hanya kerja, kerja dan kerja.
