Sikap Tentang E-Pesawat😄
"Tentang E-Pesawat"😄
Sore ini kita bicara pesawat yg mau dibeli oleh pemerintah Aceh, yang menjadi kontroversial dimata aktivis dan beredar luas di medsos. Hal ini butuh pemikiran semua pihak termasuk rakyat biasa yang punya hak menyampaikan pendapat juga kelompok ekstra parlemen diluar DPRA perlu memberi masukan, kritikan dan pemikirannya.
Saya bukan seseorang yang anti dengan pengadaan pesawat terbang yg logis ingin dipergunakan untuk penerbangan dalam wilayah Aceh, tentunya dengan dana Aceh yang besar itu bisa saja pemerintah mengalokasikan untuk memperdekat jangkauan wilayah lintas Aceh yg besar dan ada pula yang letak geografisnya lintas pulau.
Jika memang pemerintah Aceh masih dalam koridor membangun masa depan rakyat Aceh tentunya bukan dengan mengeleminir program-program penanganan masyarakat miskin, karena jumlahnya masih tergolong besar di Aceh.
Bagaimanapun sandang, pangan bagi warga dan anak terlantar itu sudah jelas diatur dalam konstitusi negara, maka anggaran Aceh itu perlu diprioritaskan kepada lapisan masyarakat rentan tersebut. Karena soalan kebutuhan tertier itu masih bisa dilakukan secara bertahap jika anggaran utk kebutuhan primer bagi daerah sudah dipenuhi.
Saya memandang bahwa pembangunan daerah itu adalah membangun indeks manusianya, ini berbeda dengan membangun suatu Kota yang bertarget membangun segala fasilitas dan keindahan untuk kemudahan dan kenyamanan hidup ibarat taman surga. Oleh karena itu konsentrasi gubernur dengan walikota itu sungguh berbeda.
Atas dasar pemikiran itu saya sepakat bila pemerintah membeli pesawat asalkan dana itu bukan dengan meniadakan anggaran yang primer bagi warga. Jika anda mempelajari Teori Maslow maka kebutuhan masyarakat itu terbentuk bagaikan kerucut yang besar dibawah kecil diatas.
Beikut inti dari teori tersebut:
Teori kebutuhan maslow
Hierarki kebutuhan Maslow adalah teori psikologi yang diperkenalkan oleh Abraham Maslow dalam makalahnya, "A Theory of Human Motivation", di Psychological Review pada tahun 1943.[1] Ia beranggapan bahwa kebutuhan-kebutuhan di tingkat rendah harus terpenuhi atau paling tidak cukup terpenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan-kebutuhan di tingkat lebih tinggi menjadi hal yang memotivasi.[2]
Teori ini boleh dipergunakan untuk panduan personal maupun untuk manajemen kebutuhan sosial ketika anda memimpin masyarakat. Kenapa kita mengacu pada teori ini, karena pembangunan itu adalah pembangunan manusianya maka ia harus disesuaikan dengan kompetensi manusianya.
Bagaimana juga strategnya? Membangun kesejahteraan masyarakat dulu, ketika itu dicapai pemerintah hanya mempersiapkan bandara, rakyat bahkan dapat membeli sendiri pesawatnya karena sudah menjadi kebutuhan sosial yang primery. Begitu seharusnya idealnya pembangunan masyarakat.
Jangan sampai kita menyayangi rakyat tetapi kita biarkan mereka mengejar pembangunan itu sendiri, sementara yang mempergunakan fasilitas yang menghabiskan dana rakyat begitu besar hanya beberapa persen dari elit daerah yang hidupnya sudah jauh meninggalkan agregasi tingkat kehidupan masyarakat yang dominan.
Disitulah diperlukan kearifan dan keadilan dalam memimpin rakyat, untuk itu saya menyarakan siapapun pemimpin Aceh yang baru lepas dari konflik maka seharusnyalah "Memimpin Rakyat Aceh Dengan Hati" bukan dengan emosional dengan mengejar Aceh Hebat. Karena rakyat Aceh menurut saya belum butuh Akrobat. Tetapi kebutuhan rekonsiliasi sosial adalah mutlak harus diprioritaskan setidaknya selama 15-20 tahun.
Sampai disini dulu,,,,,sampai jumpa di pemikiran2 berikutnya.
Salam
