Gubernur Harus Bisa Merasakan Penderitaan Rakyat dan Tahu Mewakili Banyak Pihak Itulah Esensi Kekuasaan Pemilihan Langsung
Ayo Bisnis Bersama Raffi Ahmad, Klik dan Download Link : : https://affilio.co.id
Isi Kode Refferal : tarabubakar
Oleh : GodFathers
Jangan sampai dimulut saudara hadis dan bicara tentang kepemimpinan nabi tetapi dalam kepemimpinan anda justru anda pamer diri sebagai munafiq tanpa menyadarinya.
Contoh kepemimpinan Islam itu lebih banyak muatan tentang bagaimana seorang pemimpin merasa dan mengikat pinggangnya demi rakyatnya, bahkan khalifah berjalan dimalam hari untuk melihat rakyat, adakah diantara mereka yg tidak makan.
Ayo Bisnis Bersama Raffi Ahmad, Klik Link : : https://affilio.co.id
Isi Kode Refferal : tarabubakar
Kalau ini yang selalu dikampanyekan dalam forum-forum pengajian di Aceh seterusnya menjadi pelajaran kepada rakyat, tapi ketika dalam memimpin sebaliknya, maka tidak berbeda dengan kita menegaskan diri sebagai masyarakat munafiq berjamaah.
Aceh : Rakyat melarat yg terdiam, pemimpin pawai moge gunakan uang kebutuhan rakyat dengan mengeksploitasi Damai.
Apakah ini rasional sebagai prioritas dalam pembangunan? Menurut saya ini adalah kebodohan yang sempurna menjadi tangga genjot untuk mencapai tahap dhalim kepada rakyat.
Begini ya, saya tidak ingin mengajarkan, tetapi ketika ada ketidaklaziman tentu menjadi wajar di kaji. Saya belajar tentang teori kepemimpinan, bahwa kecerdasan itu akan digerus oleh kepentingan diri, kelompok, teman-teman, keluarga, hobby yang menyeret anda dalam kebodohan. Karena itulah diperlukan wawasan dan kedisiplinan, kecerdasan dan sikap yang tegas pada seorang pemimpin masyarakat.
Oleh karena itu kejadian2 di Aceh yang diluar batas kewajaran tentu perlu menjadi pelajaran bagi masyarakat. Apa sih yang dibangun oleh seorang gubernur? Hampir setengah abad hidup kita nyaris kita tidak menemukan seorang gubernur yang bicara bagaimana profil masyarakat Aceh yang ingin dicapai dalam kepemimpinannya kecuali Ibrahim Hasan yang pernah memetakan Aceh dan strategy membangun masa depan rakyat Aceh yang kemudian tidak mampu diteruskan oleh gubernur-gubernur Aceh selanjutnya.
Bagi pimpinan daerah menyalurkan hobby harus memiliki semangat membangkitkan budaya sesuai dengan kompetensi masyarakatnya. Membawa budaya masyarakat Amerika yang sejahtera pada masyarakat Aceh yang masih melarat tentu kebijakan dhalim. Anda boleh belajar disana dalam ilmu kepemimpinan dan politik karena pengalaman ratusan tahun dan kemajuan negara yang paling pesat di bumi ini. Tapi bukan membawa budaya yang mahal apalagi yang mereka disana bisa dilakukan dengan uang pribadi sementara kita harus menggunakan uang negara untuk itu.
Kenapa saya harus menyorot masalah ini? Apakah saya pamer kebolehan dalam ilmu memimpin? Sungguh sama sekali Tidak Benar.
Mari kita kaji,,,,
Ketika kita memimpin, tentu kita tidak berdiri sendiri, akan banyak barisan yang dirugikan,
Pertama, kader partai yang secara kelembagaan mengkampanyekan memberi perhatian dan membangun masyarakat Aceh.
Kedua, karena Aceh terdiri dari dua jenis partai yaitu partai nasional dan lokal maka seluruh kader partai nasional di Aceh menerima dampak negatif, karena masyarakat dibawah sebahagian besar masih bisa dieksploitasi dalam emosional seperti itu.
Ketiga, negara dianggap hanya bisa mempertontonkan kesenjangan, ketidakadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Seharusnya seorang gubernur harus mampu menunjukkan ketauladanan dalam kebijakan publik, sehingga negara tidak menjadi tumbal dan kitalah sebagai pemimpin yang telah memantik timbulnya ketidakpuasan warga lain dalam bernegara.
Oleh karena itu maka gubernur dalam kepemimpinannya harus selalu menempatkan rakyat dan negara dalam landasan berpikir dan bertindak.
Lalu, apakah partai lokal diuntungkan dan menumbuhkan kepercayaan rakyat Aceh kembali?
Benar, bagi mereka yang tidak mengedepankan pikiran.
Tidak, bagi mereka yang rasional dan memahami politik.
Karena tanpa wawasan dan ilmu pengetahuan seorang pemimpin maka harapan rakyat dan tujuan negara tidak mungkin dapat dicapai bahkan tahapannya akan stagnan selamanya, apapun negaranya, karena negara itu hanya benda mati, tetapi yang menentukan siapa orangnya yang memimpin.
Dari ketiga alasan diatas, saya adalah orang yang masih dirugikan dalam kepemimpinan ini,
Pertama, saya kader partai nasional sejak belia yang terinspirasi wacana federasi dan desentralisasi daerah dan saya juga pendiri partai lokal. Lalu siapa yang dirugikan secara total? semua kader partai nasional di Aceh.
Kedua, tentu saja saya dirugikan sebagai masyarakat Indonesia, dimana seharusnya saya mendapatkan hak saya yang lebih sebagai warga negara tapi uang negara untuk saya yang bisa saya nikmati melalui pembangunan tapi digunakan untuk hobby yang sangat jauh berkait dengan pembangunan mengatas namakan masyarakat Aceh termasuk saya di dalamnya.
Kalau saya diam, maka saya termasuk orang yang tidak paham hak saya dalam bernegara.
Kemudian karena saya sudah belajar dan berinvestasi dalam politik hampir sepanjang hidup tentu saya harus paham bahwa prilaku pemimpin yang tidak lazim adalah bentuk kebijakan publik yang juga tidak lazim dan hal itu adalah pelecehan yang nyata terhadap masyarakat dan saya di dalam itu.
Gubernur Jawa Tengah, Gubernur DKI, Presiden membudayakan bersepeda, sementara kita Moge.
Kalau pemimpin Aceh hebat seharusnya bersepeda keliling Aceh untuk mengisi damai, jika perlu jalan kaki atau pakai aja sepatu roda biar terlihat modern sekalian pantau jalan berlubang dan menyapa rakyat,,,,pasti akan tampak cerdas dan anda sedang memimpin bukan sebatas gagah-gagahan.
Salam
Ayo Bisnis Bersama Raffi Ahmad, Klik dan Download Link : : https://affilio.co.id
Isi Kode Refferal : tarabubakar
