Orang Berpendidikan Umum di Arab Dijadikan Ulama di Negeri Kita
Suatu hari yang cerah saya berjalan melewati beberapa rumah di suatu komplek perumahan, saya berjumpa para tetangga dan secara kebetulan saya diminta masuk untuk mencoba kopinya yang dibawa dari Aceh bahagian Tengah yang terkenal itu.
Ditengah pembicaraan ttg kopi yang saya memberi apresiasi bahwa kopi itu rasanya luar biasa, karena saya jg berpengalaman mencoba itu ketika saya membawa sebagai oleh-oleh kala saya mengunjungi suatu tempat yang jauh.
Karena saya menanyakan perihal anak2 maka masuklah pembicaraan tentang substansi pendidikan, dimana lima orang anaknya dalam pendidikan dan salah satu yang sulung dari dua anak dari istri pertamanya, sudah bekerja di instansi pemerintahan. Tentu anda akan bertanya berapa total anak bapak itu? di jawab sendiri aja dgn ilmu Matematika ya,,,,
Next,,,Anak kedua dari istri pertamanya dia ceritakan bhw disekolahkan di Arab Saudi dengan Jurusan Ekonomi. Tapi terganggu pendidikannya karena ketika pulang ke Indonesia selalu diminta untuk menjadi Imam dan sudah menikmati penghargaan itu, malah kini sudah berkeluarga dan memilih menjadi Pemuka Agama di negeri kita. Padahal ilmu dasarnya ilmu ekonomi Islam tapi justru sekarang tidak bisa digunakan dan dia hanya hidup dari ilmu agama terapan tidak berpendidikan khusus ttg ilmu agama Islam.
Sebagai orang tua tentu saya merasa bahwa saya telah gagal memberi pendidikan yang benar kepada dirinya, hal itu yg selalu terpikir oleh saya, maka adik-adiknya tidak ingin lagi saya sekolahkan ke Saudi Arabia. Saya kuatir dianggap mereka ulama semua dan kita tidak mampu mempertanggung jawabkannya.
Oo,,,,iya pak, saya mengangguk lalu minum kopi. Trus yang lain bapak sekalolahkan dimana? Sambung saya.
Dua orang diluar Aceh, satu masih di SLTP di Banda Aceh dan yang kecil tahun depan masuk Sekolah Dasar di Banda Aceh aja, sebutnya..
Saya menyambung, Bagus juga bapak sekolahkan ke Perguruan Tinggi di Eropa, negara-negara dengan Iklim Demokrasi yang bagus. Karena lingkungan dapat menjadi guru yang baik bagi pembentukan karakter dan mentalitas anak-anak. Karena bapak memiliki uang yang cukup untuk pendidikan mereka.
Saya memang sedang berpikir kesitu untuk anak yang dua terakhir, hanya saya kewalahan juga diantara mereka belum ada yang meneruskan usaha saya dibeberapa pabrik. Karena simpanan cukup untuk mereka maka mereka bisa memilih pendidikan yang bagus, tentu pilihannya sudah pasti diluar daerah atau luar negara kita. Beliau menjelaskan.
Iya benar, bapak bebas memilih pendidikan anak karena bapak berwiraswasta, yang mengherankan kita mereka pemimpin daerah yang bertanggung jawab terhadap pendidikan daerah kemudian seenaknya menyekolahkan anaknya keluar daerah dan keluar negeri. Itukan sama dengan memperjelas tanggung jawabnya yang tidak pernah mereka bertanggung jawab, padahal justru anak-anak mereka yang wajib disekolahkan di sekolah yang mereka bertanggung jawab. Saya juga menyampaikan dgn sedikit kekesalan ttg tanggung jawab pendidikan Aceh yang saya tidak pernah di ajak berpartisipasi disana oleh pamerintah Aceh, mungkin karena bukan pegawai negeri sipil.
Padahal Menteri juga sudah di rekruit dari kalangan wairaswasta, sementara Aceh yang sudah ada UUPA masih saja Kepala Dinas dan Deputi dan tenaga ahlinyanya dari Pegawai Negeri Sipil. Inilah pak dilema pimpinan kita di Aceh lagee buya tambue lheuh ek kab han ek hue, saya akhiri dan mohon izin dalam pertemuan singkat itu dan berterimakasih atas suguhan kopinya.
Salam
