Kenapa Warga Aceh Suka Perang dan Anti Komunis

Banyak cara orang melakukan Peneliatian dan juga menduga-duga dengan nalar, kenapa orang Aceh suka dan tidak takut dengan perang. Hal ini tentu menjadi rahasia publik, bahkan ada para pihak yang mengaitkan dengan DNA segala.

Secara umum komunikasi dalam warga Aceh endingnya adalah kedekatan, harmonizem, romantisme dan kebersamaan dalam kesamaan nasib, aliran dan kepercayaan. Sebsliknya dalam banyak hal komunikasi dengan warga Aceh baik dengan warga lain maupun sesama warga Aceh, apabila mengarah ke negatif maka endingnya berupa ajakan perang. 

Demikian pula dalam diskusi maupun penyelesaian masalah bila arahnya negatif dan berjalan buntu, akhirnya keluarlah kalimat-kalimat yang telah menjadi formulasi dalam pergaulannya. Umpama, Pat Kapreeh? (Dimana Kau Tunggu??). Berupa penyelesaian masalah dengan adu kekuatan atau andalkan fisik.

Hal ini tentu saja dipahami oleh mereka yang memantau dan memperhatikan secara baik karakteristik manusia lintas daerah maupun bangsa. Kekuatan atau kelemahan ini menjadi alat bagi pihak lain untuk memantik emosi sehingga lawan bicaranya berprilaku demikian. Inilah salah satu yang harus dilewati oleh seseorang warga Aceh ketika ia memilih profesi seperti, politisi, wartawan, pengacara dan lain-lain yang dominan mengarah kepada komunikasi publik.

Sebenarnya tidak rumit memahami kenapa warga Aceh secara umum tidak takut dengan peperangan. Ada faktor dominan selain faktor pendukung lainnya yaitu "Syahid". Karena warga Aceh yang dominan Islam percaya bahwa membela harga diri meski hingga mati maka ia tergolong Syahid. Hal inilah yang dikejar oleh mereka yang punya keyakinan yang kuat dalam beragama Islam. Sehingga perang menjadi soal bagaimana menuju mati bukan soal menang dan kalah dalam pertempuran. Sungguh ada dimensi lain yang sangat mengakar dan memperkuat sikap warga Aceh dalam kehidupannya sehingga dalam pertaruhan harga diri bahkan terkadang segala hal perlu dikaitkan dengan harga diri bangsa yang disebut Marwah untuk menjadi alat pemersatu. Karena sikap inilah yang menyebabkan Aceh tidak pernah menyerah dan kalah perang meski dalam pertempuran tidak berbeda dengan pihak lain atau banyak yang gugur.

Islam fundamental acapkali digelarkan kepada warga Aceh, karena memang kehidupannya sejak dilahirkan diwarnai secara dominan oleh nilai-nilai Islam yang kental ditengah kehidupannya. Disamping itu penelitan-penelitian yang menjadi jembatan penalaran dan logika sangat kering dalam kehidupan warga Aceh. Karena itu pula warga menggunakan dogma agama secara pragmatis untuk menunjukkan arah kehidupannya bahkan dalam urusan yang kecil sekalipun. 

Karena itupula ada pertentangan yang sangat kentara bila dikaitkan dengan paham komunizem yang dipahami meniadakan campur tangan tuhan sistem kehidupan manusia. Hal ini pula yang menjadi kekuatiran sebahagian warga Aceh terhadap keberadaan pemerintah yang memberi tempat kepada komunisme. Dengan begitu wajarlah hasil pilpres di Aceh sebagaimana kita telah ketahui bersama.

Sebaliknya pihak-pihak yang memberi ruang kepada komunis wajarlah ketika bersikap mengintervensi Islam misalnya dengan melemahkan tempat dan cara ibadah serta pendidikan Islam yang fundamental itu. Perhatikan saja fenomena tersebut akan berlangsung dengan sempurna dimanapun ada kehidupan Islam dan Ideology Komunis.

Salam

Gram...

Kepada yang ingin pendapatan tambahan silakan klik dan daftar :

 https://moneyrewards.co/?share=bungedo

[12/6 07:29] Tarmidinsyah Abubakar: Yang perlu dollar silakan klik link ini dan masukkan keterangan anda, untuk user name masukkan nama panggilan anda. Nanti anda akan mendapat link dan link itu kirimkan ke sebanyak2nya teman. Jika anda tidak ingin mendaftar tolong sebarkan url diatas untuk kerjasama persahabatan kita semua. Selamat pagi....

Postingan populer dari blog ini

Jalan Sunyi Dari Puncak Seulawah

BUKU RAKYAT : Lhoksukon & Tanah Luas: Dua Wajah Loyo Pikiran di Tengah Kaya

Hak Referendum Rakyat Aceh Bukan Mustahil